Di Indonesia, penanganan kanker masih belum optimal. Hampir 70% pasien kanker datang ketika sudah berada pada stadium 3 dan 4. Akibatnya, pengobatan yang bisa dilakukan juga kurang optimal.
Selain itu, tidak semua puskesmas memiliki peralatan yang dapat mendiagnosis keberadaan kanker.
Kanker adalah suatu penyakit akibat pertumbuhan sel yang tak terkendali. Untuk mengobatinya, pasien bisa menempuh berbagai macam pengobatan. Saat ini, diketahui ada beberapa cara untuk mengobati kanker, yaitu dengan kemoterapi, radiasi, brakioterapi, dan lain lain.
"Saat ini Kementerian Kesehatan tengah berupaya untuk memberikan penanganan kesehatan yang lebih murah dan efisien. Salah satunya adalah mengupayakan agar diagnosis kanker bisa dilakukan di setiap puskesmas di Indonesia. Salah satu kendala dalam pengobatan kanker adalah diagnosis dan menentukan faktor risiko," kata Menteri Kesehatan RI, dr Endang Rahayu Sedyaningsih dalam acara Peresmian Peralatan Canggih untuk Penentuan Stadium Kanker di RS Dharmais, Jakarta, Rabu (14/3/2012).
Kanker disebabkan oleh berbagai macam faktor risiko dan penanganannya pun bisa dilakulan dengan kombinasi berbagai pengobatan. Hal inilah yang membuat pengobatan kanker menjadi mahal dan sulit dijangkau masyarakat.
Untuk lebih menyederhanakan proses pengobatan dan efisiensi, kementrian kesehatan juga berencana menyusun suatu database yang memuat beberapa jenis kanker dan besaran biaya pengobatannya di tiap-tiap stadium.
Tak hanya itu, hampir seluruh obat-obatan yang digunakan saat ini untuk kemoterapi diimpor dari luar. Untuk mengatasinya, kementerian kesehatan meminta RS Dharmais untuk mengembangkan pengobatan kanker yang bersumber dari dalam negeri.
"Hampir 100% obat-obatan kanker diimpor dari luar negeri. Maka sudah saatnya kita mengupayakan sumber-sumber lokal agar pasokannya tidak tergantung dari luar. Salah satunya adalah mengoptimalkan penggunaan dan penelitian tentang herbal dan obat tradisional," kata Menkes.
Sumber: detik.com


