Pasien kanker banyak yang takut makan protein karena khawatir memicu sel kanker jadi aktif sehingga memilih sayur dan buah saja. Tapi tidak benar bahwa pasien kanker hanya diperbolehkan makan sayur dan buah.

“Tidak benar kalau sudah kena kanker terus cuma boleh makan sayur dan buah saja,” ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, SpGK, Spesialis Gizi Klinik RSCM saat ditemui disela-sela acara bedah buku ‘Berdamai dengan Kanker’ di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (8/6/2011).

Dr. Fiastuti menuturkan bahwa pasien kanker harus sehat dan fit, sehingga tidak hanya boleh makan sayur dan buah tetapi juga membutuhkan nutrisi lainnya.

“Pasien kanker tetap butuh karbohidrat, protein, lemak dan mikro nutrient seperti vitamin dan mineral. Jadi nggak cuma makan sayur dan buah,” lanjut Dr. Fiastuti.

Karbohidrat, lanjut Dr. Fiastuti, bisa diperoleh dari nasi dan pengganti nasi seperti umbi-umbian, jagung, bihun, berah merah, dsb.

Protein dari lauk-pauk seperti putih telur, ikan, ayam, tahu, tempe juga daging. Protein menurut Dr. Fiastuti berfungsi sebagai sel pembangun yang dapat menggantikan sel yang rusak.

“Lemak juga dibutuhkan untuk kapsul sel (lipid bilayer) agar dapat berfungsi dengan baik. Sel yang kuat inilah yang kita butuhkan agar tidak cepat rusak,” jelas Dr. Fiastuti.

Menurut Dr. Fiastuti ada 3 jenis lemak yang dibutuhkan, yaitu lemak jenuh yang berasal dari hewan, dibutuhkan sekitar 10 persen dari total asupan yang dibutuhkan.

Kemudian lemak tidak jenuh tunggal yang berasal dari kacang-kacangan, alpukat, minyak olive, yang dibutuhkan sekitar 10-15 persen dari kebutuhan total.

Dan juga lemak tak jenuk ganda yang berasal dari ikan dan minyak ikan, dibutuhkan sekitar 10 persen.

“Jadi kebutuhan lemak untuk pasien kanker 1:1:1,” jelas Dr. Fiastuti.

Yang terpenting, tegas Dr. Fiastuti, makanan yang diberikan pada pasien kanker harus makanan yang segar dan jangan diawetkan. Karena makanan yang sudah diawetkan nutrisi seperti vitamin dan mineralnya sudah hilang.

“Untuk metabolisme yang normal, dibutuhkan makanan yang lebih baik, lebih balance. Memang ada suplemen dari luar, tapi kebanyakan minum suplemen kan juga tidak baik. Jadi kalau makanannya baik pasti nutrisinya juga terpenuhi,” tutup Dr. Fiastuti.

Diet Rendah Karbo dan Tinggi Protein Ternyata Mencegah Kanker

Masih berkaitan dengan diet bagi para pasien kanker, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Cancer Research, sebuah jurnal dari American Association for Cancer Research, diet rendah karbohidrat dan kaya protein dapat mengurangi risiko kanker dan memperlambat pertumbuhan tumor yang sudah ada. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana seperti perubahan dalam diet dapat berdampak pada risiko kanker.

Penelitian ini dilakukan pada tikus, tetapi ilmuwan yang terlibat setuju bahwa temuan biologis ini cukup signifikan untuk memberikan efek yang sama pada manusia, seperti diungkap Gerald Krystal, Ph.D. dari British Columbia Cancer Research Centre.

Krystal dan rekan-rekannya mengimplan berbagai strain tikus dengan sel tumor manusia  dan diberikan ke salah satu dari dua diet. Diet pertama, mengandung  sekitar 55 persen karbohidrat, 23 persen protein dan 22 persen lemak. Yang kedua, yang agak  mengandung 15 persen karbohidrat, 58 persen protein dan 26 persen lemak. Mereka menemukan bahwa sel-sel tumor tumbuh secara konsisten lebih lambat pada diet kedua.

Para peneliti mengatakan bahwa sel tumor, tidak seperti sel normal, memerlukan glukosa secara signifikan untuk tumbuh dan berkembang. Membatasi asupan karbohidrat secara signifikan dapat membatasi glukosa darah dan insulin, suatu hormon yang telah ditunjukkan dalam banyak studi independensebagai pemicu pertumbuhan tumor pada manusia dan tikus.

Selain itu, diet rendah karbohidrat dan tinggi protein memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan sistem kekebalan untuk membunuh sel kanker dan mencegah obesitas, yang menyebabkan peradangan kronis dan kanker.

Sumber: fitzania.com