Dun Afrika Selatan

 

Gula kerap dianggap berefek buruk terhadap kesehatan. Gula sering dituding menjadi penyebab kegemukan dan diabetes. Gula “dituduh” menjadi penyebab kegemukan karena dianggap menyumbang energi/kalori yang besar tiap porsinya. Sedangkan untuk diabetes selama ini yang banyak diketahui, penyakit ini mempunyai ciri-ciri dan erat kaitannya dengan kadar gula yang tinggi dalam darah.

Fungsi gula bagi tubuh sebenarnya adalah sebagai bahan dasar bahan bakar dasar pembentuk energi, esensial untuk berfungsinya seluruh sel, terutama sel-sel otak. Ketika mengkonsumsi  makanan yang mengandung gula, makanan dipecah tubuh menjadi bentuk gula yang paling sederhana. Sukrosa dipecah menjadi glukosa dan fruktosa, yang akan memasuki aliran darah melalui dinding-dinding usus yang selanjutnya akan diserap sel-sel dan menggunakannya sebagai energi.

Glukosa disimpan di hati dan otot dalam bentuk glikogen. Glikogen di hati sewaktu-waktu dapat diubah kembali menjadi glukosa pada saat energi diperlukan. Sebagian besar fruktosa diubah pula menjadi gluktosa oleh hati. Hati pun dapat mengubah gula menjadi asam amino pembagun protein. Kelebihan gula, sebagaimana halnya energi ekstra lainnya, diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam tubuh.

Menyebabkan kegemukan?

Bahwa gula dapat menggemukkan adalah pernyataan yang tidak benar. Pada kasus kegemukan, kesalahan tidak “dipikul” sendiri oleh gula. Gula hanya menyumbang energi 16 kalori (kcal) persendok teh atau 4 kcal tiap gramnya. Mengkonsumsi energi lebih banyak daripada yang dapat dibakar oleh tubuh merupakan pemicu penambahan berat badan. Bagi kebanyakan orang, andil terbesar dari kelebihan energi berasal dari mengkonsumsi lemak terlalu banyak, bukan gula.

Beberapa riset secara mengejutkan justru menemukan bahwa orang yang kurus cendrung mengkonsumsi gula lebih banyak dibandingkan dengan orang yang gemuk. Orang yang sering menyalahkan makanan manis tatkala berat badannya naik sudah melupakan mayoritas energi cake, cokelat, cookies dan es krim yang mereka makan berasal dari lemak, bukan gula. Lemak menyediakan  energi  9 kcal per gram.

Namun itu tak berarti tubuh tidak akan bertambah berat jika camilan yang menyediakan gula ditambahkan secara berlebihan pada pola makan sehari-hari. Yang menyebabkan berat badan naik ialah energi (gabungan hasil pembakan karbohidrat-lemak-proein), bukan gula. Sekali lagi, lemak memproduksi energi jauh lebih besar daripada gula.

Menimbulkan Diabetes?

Makan gula telalu banyak tidak menimbulkan diabetes. Kelebihan konsumsi gula memang amat berbahaya bagi pengidap diabetes. Mereka harus membatasi konsumsi gula. Tetapi gula, tidak menyebabkan diabetes.

Janket dan empat koleganya dari Harvard Medical School, Amerika Serikat meneliti secara prospektif apakah konsumsi total atau jenis gula berhubungan dengan risiko munculnya dabetes tipe-2, yaitu diabetes yang tidak tergantung pada insulin. Studi yang diikuti selama rata-rata enam tahun itu meneliti 39.395 perempuan berumur menimal 45 tahun ke atas yang dipilih secara acak. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi gula tidak tampak berisiko terhadap perkembangan diabetes tipe-2.

Kegemukan mungkin merupakan faktor risiko untuk dibates tipe-2. Dan, sebagaimana sudah dinyatakan diatas, gula bukan penyebab utama di belakang kebanyakan kasus kegemukan. Riwayat keluarga berpenyakit diabetes dan usia yang telah lanjut merupakan faktor-faktor penting lain penyebab diabetes.

Tak ada alasan kuat untuk membatasi konsumsi gula secara ketat, kecuali kalau Anda penderita diabetes atau orang yang sensitif terhadap karbohidrat. Penderita diabetes pun masih diperbolehkan makan makanan yang manis. Namun, mengindari konsumsi gula terlalu banyak tetap lebih baik.

Mungkin tidak mudah melakukan hal tersebut  karena gula adalah makan yang populer dalam bahan makanan olahan. Gula merupakan bahan tambahan makanan yang penting. Ia hadir dalam pelbagai makanan yang sebelumnya mungkin tak terbayangkan, seperti sup, sambal, jus buah, sereal, yoghurt, roti, makanan kaleng, dan tentu saja minuman ringan (soft drink) serta makan manis lainnya.

Gula secara alami dijumpai pula pada buah-buahan, sayur-sayuran, dan produk susu. Idealnya, gula memberikan  kontribusi tidak melebihi 15 % dari total energi perhari. Kendati begitu perlu diingat, bahwa sebagian besar makanan manis mengandung lemak dan energi yang tinggi, tetapi zat gizinya relatif rendah.

Jika Anda menjalankan pola makan seimbang, yakni rendah lemak dan tinggi karbohidrat, tak ada alasan menjauhi gula. Dengan pola makan seimbang, Anda secara otomatis akan membatasi konsumsi gula. (na/mhs)

 

Sumber:   kliniksehati.com