Dun Afrika Selatan

Sedikit orang yang mungkin mengetahui bahwa tanggal 14 November merupakan Hari Diabetes Sedunia. Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari kelahiran dokter Frederick Banting, salah seorang penemu Insulin yang telah menyelamatkan hidup jutaan penderita diabetes di seluruh dunia. Sembilan puluh tahun berselang sejak dr Banting menemukan Insulin, ternyata masalah diabetes dan penaganannya justru semakin kompleks.

Bahkan di tengah gencarnya informasi tentang gaya hidup sehat yang dapat mengurangi resiko terjadinya diabetes, jumlah orang diabetes di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia terus bertambah.  Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat kita? Apakah masyarakat dan pemerintah Indonesia sudah cukup bertindak untuk melindungi masa depan kita sesuai tema yang diangkat dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia tahun ini?

Berikut ini merupakan hasil wawancara dengan seorang dokter spesialis endokrin dan diabetes, dr Johanes Purwoto, SpPD, KEMD dan dokter spesialis anak dan diabetes anak, yang sarat pengalaman dan kegiatan dalam menangani diabetes, dr Frida Soesanti, SpA.

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh International Diabetes Federation (IDF) pada peringatan hari diabetes sedunia tahun ini?

Tema yang diajukan pertama untuk mengingatkan kita akan masalah akses untuk mendapatkan edukasi atau penyuluhan tentang diabetes yang penting bagi semua orang, tidak terbatas pada penyandang diabetes maupun keluarganya, termasuk bagi orang-orang yang merasa dirinya sehat dan sama sekali bebas dari resiko diabetes;  mengingatkan akan gaya hidup masyarakat jaman sekarang yang cenderung membahayakan kesehatannya; serta  adanya perlakuan yang berbeda terhadap penyandang diabetes.

Apa tujuan dari kampanye tersebut?

Kampanye ini tersebut bertujuan untuk mendidik, melibatkan, dan mendukung generasi muda dan masyarakat luas akan upaya pencegahan dan penanganan diabetes.

Upaya pencegahan diantaranya dilakukan melalui pemberian edukasi pada masyarakat sehingga kesadaran masyarakat akan risiko dan tanda dini adanya diabetes akan meningkat. Peningkatan kesadaran yang dibarengi dengan perubahan pola hidup akan menurunkan resiko terkena diabetes  yang pada gilirannya akan menyelamatkan generasi mendatang.

Edukasi seharusnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penanganan diabetes.  Program edukasi pasien dalam penanganan pasien diabetes bertujuan untuk meningkatkan kemandirian, dan keaktifan pasien dalam perawatannya. Diabetes jika tidak tertangani baik berpotensi menurunkan kualitas kesehatan secara keseluruhan.

Hal ini dapat dipahami karena diabetes merupakan induk penyakit yang komplikasinya hampir ke seluruh tubuh. Misalnya, kebutaan sebagai komplikasi yang paling ditakuti, serangan jantung sebagai komplikasi paling membahayakan, stroke penyebab ketidakberdayaan, impotensi yang paling ditakuti pria, dan yang termahal adalah komplikasi pada ginjal yang dapat berakhir dengan cuci darah. Edukasi pada akhirnya dapat meningkatkan kerja sama pasien dengan tenaga kesehatan untuk mengurangi timbulnya komplikasi.

Apa masalah utama terkait diabetes di Indonesia?

Keterlambatan diagnosis merupakan masalah utama diabetes di Indonesia. Pasien umumnya terdiagnosis setelah diabetes menimbulkan komplikasi. Sebagai contoh, diabetes  tipe 1 pada anak biasanya terdeteksi dalam kondisi berat yang dapat mengancam kehidupan. Anak sudah dalam kondisi yang disebut dengan KAD yang ditunjukan dengan adanya penurunan kesadaran, napas sesak, muntah-muntah, dan sakit perut hebat. Hampir 40% anak dengan diabetes tipe 1 terdiagnosis dalam kondisi KAD. Dokter Frida juga memaparkan bahwa sebetulnya setiap tahunnya diperkirakan terdapat 70.000 kasus baru diabetes tipe 1 dan 25% diantaranya ada di Asia Tenggara. Namun sampai saat ini di Indonesia baru 800 orang  anak yang tercatat mengalami diabetes tipe 1. Padahal setiap tahun seharusnya minimal terdapat 1000 anak yang terdiagnosis dengan DM tipe 1. Lalu kemanakah anak-anak ini? Sebagian besar mungkin meninggal tidak terdiagnosis atau salah diagnosis dengan penyakit lain?.

Masalah lain adalah rendahnya pengetahuan kesehatan (health illiteracy) secara umum dan kepedulian masyarakat terkait masalah diabetes yang disebabkan oleh minimnya sumber informasi terpercaya serta kurangnya menempatkan edukasi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan terhadap pasien diabetes di Indonesia. Dari segi kesehatan anak, dr. Frida menyatakan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa diabetes dapat terjadi pada anak dan kurang mengenali gejala diabetes itu sendiri. Gejala diabetes melitus pada anak mirip dengan pada orang dewasa seperti banyak kecing, banyak minum, berat badan turun drastis, dan lemas.

Gejala sering kencing  yang bisa merupakan salah satu gejala kencing manis pada anak yang seringkali hanya dianggap sebagai kebiasaan mengompol. Dokter Johanes menambahkan bahwa sebagian generasi muda masih kurang menyadari kaitan antara gaya hidup dengan potensi timbulnya diabetes. Gaya makan modern seperti kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji, makanan rendah serat  dan makanan olahan pabrik yang umumnya mengandung pemanis dalam jumlah tinggi,  ditambah  ketergantungan akan moda transportasi untuk berpergian dalam jarak dekat sekalipun dan teknologi canggih yang memudahkan kehidupan, dapat memicu ketidaksimbangan energi yang beresiko menimbulkan kegemukan dan diabetes. Data Rikesda tahun 2007-2008 melaporkan bahwa sebanyak 93% orang Indonesia yang tinggal diperkotaan kurang mengkonsumsi sayuran, dan sebanyak 48% orang kurang melakukan aktifitas fisik.

Keengganan sebagian masyarakat untuk berobat pada tenaga kesehatan professional juga merupakan kendala bagi penanganan diabetes di Indonesia. Masih banyak orang diabetes yang hanya mengandalkan informasi dari mulut kemulut dan bertahan atau beralih pada pengobatan tradisional yang sering kali menjanjikan kesembuhan. Terkait dengan pengobatan tradisional dan alternatif,  dr. Johanes memaparkan bahwa saat ini terdapat 10 grup obat pengontrol diabetes yang berbeda berdasarkan mekanisme kerja dan sifat kimianya.

Sebagian berasal dari penemuan zat tumbuhan berkhasiat. Indonesia kaya akan resep obat tradisional dan tumbuhan berkhasiat yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang. Tetapi sangat perlu diperhatikan bahwa hal ini membutuhkan penelitian yang sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk membuktikan bahwa suatu ramuan dianggap dapat memperbaiki kondisi diabetes, benar-benar bermanfaat dan aman untuk dikonsumsi, dibutuhkan sumber daya manusia, teknologi dan biaya yang besar dan waktu penelitian yang panjang.

Diskriminasi sosial juga dialami pasien diabetes di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh dr. Frida, sistem asuransi di Indonesia yang sering kali tidak mau mengganti biaya pengobatan pasien anak dengan diabetes karena dianggap kelainan bawaan atau genetik. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh satu keluarga untuk anaknya yang mengalami diabetes tipe 1, jika pasien mendapat pengobatan dengan Insulin yang harus disuntikan 2x/hari, maka jumlah yang harus dikeluarkan per bulan hanya untuk insulin semata bisa mencapai 500.000 - 1 juta rupiah. Belum lagi juga biaya untuk pemeriksaan gula darah, sehari minimal 2x, maka sebulan harus mengeluarkan biaya sebesar 500.000 per bulan. Sehingga total pembiayaan adalah minimal 1,5 juta per bulan.

Apakah tenaga ahli dan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia sudah mencukupi untuk melayani pasien diabetes?

Untuk menangani sekitar lebih 8 juta penyandang diabetes saat ini, di Indonesia baru terdapat 80 spesialis diabetes yang terkonsentrasi di kota-kota besar. Sedangkan jumlah dokter endokrinologi anak hanya 38 dokter di seluruh Indonesia, 10 diantaranya ada di Jakarta dan Banten. Ambon dan Papua tidak memiliki dokter endokrin anak. Kenapa demikian?  Banyak faktor sebetulnya, karena banyak dokter yang merasa endokrinologi itu terlampau sulit atau bahkan menganggap sebagai lahan yang kurang menguntungkan. Belum lagi perhatian pemerintah masih terpusat pada penyakit infeksi atau menular. Padahal saat ini Indonesia sudah menderita double burden, punya beban ganda yaitu masih tingginya angka penyakit infeksi dan mulai meningkatnya penyakit-penyakit kronik.

Selain itu sampai saat ini belum ada tenaga perawat tersertifikasi untuk memberikan edukasi diabetes termasuk pada anak diabetes. Padahal peranan edukator ini sangat penting. Karena edukasi merupakan salah satu komponen utama terapi.

Pesan apa yang ingin dokter sampaikan pada pemerintah umumnya & pasien khususnya dalam menyikapi masalah diabetes?

Sebagai negara berkembang, Indonesia, lebih praktis & hemat jika Indonesia memfokuskan diri pada promosi gaya hidup sehat dan pencegahan diabetes. Sebagian diabetes tipe 2 telah terbukti dapat dicegah dengan program gaya hidup sehat, terutama nutrisi yang sehat, aktivitas fisik yang teratur dan penurunan berat badan yang berlebih.

Disampaikan oleh dr. Johanes bahwa mestinya pendekatan kesehatan diintegrasikan ke dalam semua kebijakan di luar sektor kesehatan juga (health in all policy approach). Misalnya, kebijakan dalam industri dan promosi makanan dan minuman, argikultur, pendidikan, olah raga, sektor perencanaan, transportasi, dan tenaga kerja semua seharusnya mendukung promosi hidup sehat. Selain itu semua kebijakan ini juga mesti mendapat dukungan dari swasta, lembaga swadaya masyarakat, media, dan masyarakat luas.

Bagi pasien diabetes, dr. Johanes berpesan agar pasien tetap menjaga kualitas kehidupan dengan cara hidup sehat, memeriksakan secara dini kemungkinan diabetes, melakukan kunjungan ke dokter dengan baik, mencari informasi yang benar, mempertahankan semangat dan mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Apakah akan ada acara khusus untuk memperingati Hari Diabetes Sedunia kali ini?

Di Jakarta acara memperingati World Diabetes Day 2012 akan diadakan di Plaza Barat Senayan , di daerah, misalnya di Bali dengan kegiatan jalan santai, dan puncak acara  secara nasional akan dilaksanakan di Candi Prambanan pada 18 November 2012.



Nara sumber:
dr Johanes Purwoto, SpPD, KEMD menjalani pendidikan spesialisnya di FKUI dan serangkaian pendidikan tambahan di Thailand dan Australia, praktek di Jakarta, aktif dalam kepengurusan Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), dan sedang mengembangkan situs edukasi diabetes untuk masyarakat Indonesia yang diberi nama Lentera Diabetes.

dr.Frida Soesanti, SpA, menamatkan pendidikan kedokteran spesialisnya di FKUI dan menjalani sejumlah pendidikan tambahan di Jepang dan China. Merupakan salah satu staf pada kedokteran anak FKUI dan berpraktek di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.


Yulia
*Pengajar pada Fakultas Ilmu Keperawatan-Universitas Indonesia
Edukator Diabetes

 

Sumber:  republika.co.id