Dun Afrika Selatan
DIABETES Mellitus (DM) atau akrab disebut kencing manis merupakan gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optimal. Insulin merupakan hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. Insulin membuat gula berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan energi, atau disimpan sebagai cadangan energi.

 
Dan kini, tak hanya orangtua, anak-anak pun bisa terkena penyakit yang dijuluki silent killer ini. Penyebabnya pun beragam. Mulai obesitas sampai karena penuluran dari orangtuanya. Tapi jangan panik dulu, meski termasuk penyakit “mematikan” nomor lima di dunia, diabetes masih bisa dicegah. Mau tahu? Berikut penjelasan dr. Aditya Suryansyah, SpA(K)  dari Sub Spesialisasi Endokrin Anak
RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat, sebagaimana diulas tabloid Mom & Kiddie.
 
Sulit Dideteksi
 
Pada anak-anak, diabetes memang sulit dideteksi. Umumnya seorang anak baru akan terdeteksi menderita diabetes saat usia balitanya telah lewat atau pada saat usianya tujuh tahun ke atas.
 
Pasalnya, saat buah hati kita masih berusia dini, walaupun si kecil kekurangan insulin biasanya tidak terlalu banyak. Jadi, tidak terlalu tampak meski kadar gulanya naik. Baru setelah usia anak semakin besar, gejala diabetes semakin terlihat karena kebutuhan insulinnya semakin banyak.
 
Kenali Gejala Awal Diabetes
 
Selain sulit dideteksi, orangtua juga sering terkecoh dengan gejala yang ditimbulkan dari penyakit diabetes ini. Bahkan, tak sedikit orangtua terlambat melihat gejala yang diderita saat si kecil mulai memperlihatkan dirinya menderita diabetes.
 
Menilik dari gejalanya, diabetes hampir menyerupai gejala diare seperti muntah dan sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dehidrasi berat, kejang-kejang. Bedanya, napas anak berbau asam (aseton). Dan terkadang orangtua salah dalam menilai kondisi kesehatan anaknya – dianggap diare berat. Sehingga tak jarang anak penderita diabetes dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sudah parah/koma.
 
Selain gejala yang mirip dengan gejala diare, gejala diabetes mellitus juga biasa disebut dengan 3P, yakni seringnya si kecil merasa lapar (poligafi), haus (polidipsi), buang air kecil (poliuri) yang bervolume cukup banyak. Namun seringkali saat anak banyak makan dan banyak minum, orangtua menganggap wajar. Sering buang air kecil juga dianggap wajar, karena si anak minumnya banyak. Itu yang membuat orangtua kecolongan, setelah anak terinfeksi, baru menyadari bahwa hal tersebut merupakan salah satu gejala awal yang terlihat.
 
Selain itu, penurunan berat badan secara tiba-tiba meski tidak ada usaha menurunkan berat badan, sering kesemutan pada kaki atau tangan, mengalami masalah pada kulit seperti gatal atau borok, jika mengalami luka, butuh waktu lama untuk dapat sembuh dan mudah merasa lelah juga dapat menjadi gejala DM yang patut diwaspadai.
 
Bila moms mendapati hal tersebut, sebaiknya ajak si kecil untuk memeriksa kadar gula darahnya di rumah sakit. Kadar gula darah yang normal pada anak sama dengan kadar gula normal bagi orang dewasa yakni berkisar antara 100-140 mg/dl.
 
Sejauh ini DM memang belum bisa disembuhkan dan memerlukan pengobatan seumur hidup. Walau begitu, kualitas hidup penderita dapat dipertahankan seoptimal mungkin dengan mengusahakan kadar gula darah yang normal.

 

Sumber: health.okezone.com