Meraup Laba dari Bunga Rosella

 Sejumlah petani di Cepogo, Boyolali (Jateng), berlomba menanam Rosela untuk menambah penghasilan. Konon, bunga ini mengandung banyak vitamin dan banyak khasiatnya. Menanamnya juga gampang, kok!

Pernah mencicipi minuman dari rendaman bunga Rosela yang baru dipetik langsung dari pohonnya? Harum, segar, dan sedikit terasa asam. Terlebih bila dibubuhi gula putih dan diminum selagi hangat di musim hujan seperti sekarang ini. Tapi ingat, bagi yang asam lambungnya tinggi, jangan mengonsumsi berlebihan.

Waluya (42) adalah salah satu petani bunga Rosela di Dusun Jelok, Boyolali. Sayangnya, bunga Rosela basah tidak bisa dijumpai di pasaran. Yang ada hanya yang kering dalam bentuk bunga kering atau dalam kemasan sachet. Selain dibuat teh, bunga rosela juga bisa diolah menjadi sirup, selai, dan manisan. “Daunnya juga sedap. Pernah saya keringkan lalu direndam dalam air panas, dan diminum hangat-hangat. Rasanya enggak jauh beda dengan teh bunga Rosela,” tuturnya.

 

Banyak Khasiat

Selain nikmat, kata Y.Wuri Wulandari, dosen Teknologi Pertanian Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, 100 gram kelopak bunga Rosela mengandung antara lain vitamin C, D, B1, B2, kalsium, betakaroten, magnesium, dan Omega 3. “Juga ada karbohidratnya,” terang Wuri yang melakukan penelitian tentang minyak atsiri.

Penelitian tentang atsiri di Cepogo itulah yang mempertemukan Wuri dengan Waluya. Wuri pula yang memberi pelatihan pembuatan sirup dan selai dari bunga Rosela.

Di Desa Jelok yang terletak di lereng Gunung Merbabu itu, terdapat 25 petani yang menanam Rosela di lahan seluas 4,5 ha dan tersebar di berbagai tempat. Sebagai pelopor, Waluya kini dipercaya menjadi ketua kelompok. Ia menanam Rosela sejak tahun 2000 dan mendapat biji Rosela dari temannya yang datang dari Bali. “Waktu itu dia memberi 20 biji. Katanya, kalau ditanam, bunganya bisa jadi teh,” tutur ayah dua anak itu.

Kata-kata itu membuat Waluya penasaran. Sayang, ia tak tahu bagaimana cara menanamnya. Iseng-iseng Waluya merendam 20 biji rosela hingga menjadi kecambah. “Langsung saya tanam di halaman. Ternyata tumbuh dan sekitar tiga bulan kemudian, berbunga. Tapi saya belum tahu keistimewaan dan khasiatnya.

“Kebetulan Waluya mengenal Wuri yang sedang mengadakan penelitian pribadi di Cepogo. “Saya perlihatkan tanaman itu pada Bu Wuri yang kemudian menelitinya. Beberapa hari kemudian, saya dijelaskan tentang kandungan bunga Rosela berikut manfaatnya.”

Setelah tahu tanamannya berkhasiat, Waluya giat menanam lagi. Tanpa diduga, ada pembeli datang ke rumahnya. Sayangnya, lahan Waluya terbatas sehingga hanya mampu memanen 5-8 Kg. Jauh dari mencukupi kebutuhan sejumlah pembeli.

 

Banjir Pembeli

Karena tak mampu mememenuhi permintaan, Waluya mengajak tetangganya menanam Rosela “Tetapi enggak ada yang tertarik. Baru setelah hasil panen saya laku dan terjual dengan harga tinggi, mereka mau ikut menanam. Bijinya juga dari saya. Gratis.”

Tahun 2002 semakin banyak tetangga bertanam Rosela. Panen di Desa Jelok akhirnya melimpah, pembeli pun datang-pergi. Untuk menghindari persaingan harga yang tak sehat, tahun 2007 dibentuk Kelompok Tani Seger Asri. Dua anggota pemilik lahan yang lumayan luas, sekitar 1.500 m persegi, adalah Paulus dan Rebi. Mereka mengaku sudah tiga kali panen. “Kalau pembeli terus datang. ya, lebih baik menanam Rosela daripada jagung atau pepaya,” tutur Paulus.

Kelompok tani ini lalu mengikat kontrak dengan seorang pengepul dari Yogyakata yang sanggup membeli Rosela dalam jumlah banyak. Harganya, Rp 125 ribu per kilo meski dalam perjalanan bisa fluktuatif. “Setiap petani yang Roselanya laku, wajib menyetor 5 persen dari hasil penjualan ke kelompok. Uang yang terkumpul digunakan untuk biaya operasional kelompok. Rencananya, kami mau mendaftarkan produk kami di Depkes agar dapat izin edar,” terang Waluya.

 


 

Rosela Organik

Khusus untuk konsumsi masyarakat umum, Waluya kini mulai menyisihkan hasil panennya untuk dijual secara kemasan. “Saya jual per boks takaran 40 gram seharga Rp 20 ribu. Barang bisa dikirim. Yang saya jual ini, Rosela organik, lho. Saya menanam pakai pupuk kandang.”

Masa tanam Rosela, menurut Waluya, hanya 8 bulan. Panen pertama, 3 bulan setelah masa tanam. “Itu yang kualitasnya bagus. Bulan ke-4 hingga 8, bunganya tidak sebagus panen awal. Jadi, sebelum usia tanaman habis, kami sudah menanam lagi sehingga enggak ada masa yang kosong.”

Tanaman Rosela, jelas Waluya, tak tahan hidup jika kemarau berkepanjangan. “Kebanyakan air juga tak mau. Cukup sekali sehari disiram. Ditanam di pot, juga bisa. Pendek kata, tak perlu perawatan rumit.”

Mengapa harganya bisa tinggi? Di samping banyak khasiatnya, dari 20 Kg Rosela basah, setelah diambil bijinya hanya tersisa 10 kg. “Nah, karena itulah harganya jadi tinggi.”

Rini Sulistyati

Diambil dari:bisnisinvestasi.wordpress.com