User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

"Penemuan ini membuka kemungkinan baru perawatan untuk penyembuhan dan untuk mendesain tanda-tanda baru yang dapat memprediki respon terhadap terapi," kata Professor Chris Ormandy dari the Garvan Institute of Medical Research, Sydney.

 

Penelitian baru menunjukkan bahwa protein yang memicu produksi air susu pada perempuan mungkin menjadi penyebab kanker payudara agresif.

Penemuan itu juga dapat membuka kemungkinan baru pada perawatan penyakit kanker paling umum dan paling mematikan pada wanita tersebut.

Para peneliti di Australia dan Inggris menemukan bahwa protein ELF5 mengaktifkan produksi susu di semua sel-sel payudara, termasuk yang terkena kanker.

Protein ELF5 yang aktif di sel-sel yang terkena kanker itulah kemudian membuat kanker payudara menjadi lebih agresif.

"Penemuan ini membuka kemungkinan baru perawatan untuk penyembuhan dan untuk mendesain tanda-tanda baru yang dapat memprediki respon terhadap terapi," kata Professor Chris Ormandy dari the Garvan Institute of Medical Research, Sydney.

Penelitian oleh Ormandy dan timnya dipublikasikan dalam jurnal PLOS Biology pada Jumat.

"Sel-sel kanker tidak dapat merespon secara tepat terhadap ELF5, oleh karena itu sel tersebut membawa karakteristik tertentu yang membuat penyakit menjadi lebih agresif dan lebih tahan terhadap upaya penyembuhan yang sedang berlangsung," kata Ormandy.

Kanker payudara adalah kanker paling umum yang diderita perempuan, dan menjadi penyebab kematian tertinggi dalam kelompol tersebut.

Sebanyak 23 persen total kasus kanker adalah kanker payudara, dan penyakit ini juga menyebabkan 14 persen kematian pada perempuan.

Untuk menentukan perawatan yang tepat, para dokter sebelumnya harus mengetahui apakah suatu kanker mempunyai reseptor untuk hormon estrogen dan progesteron yang dalam kasus kanker payudara membuat tumor bertumbuh.

Dua per tiga kanker payudara biasanya positif mengandung reseptor estrogen, yang kemudian membutuhkan terapi anti-hormonal untuk mengurangi level estrogen pada pasien, dan menghalangi hormon tersebut untuk menumbuhkan kanker.

Sepertiga kasus sisanya tercatat bahwa kanker yang diderita perempuan tidak mempunyai reseptor, yang berarti mereka tidak akan mendapatkan manfaat dari terapi anti-hormonal. Pasien-pasien itu biasanya diberikan perawatan lain, seperti kemoterapi.

Tim peneliti Ormandy menemukan bahwa kanker dengan reseptor mempunyai sedikit ELF5, dan sebaliknya.

"Apa yang kami tunjukkan dalam penelitian ini adalah bahwa tumor dengan ELF5 yang tinggi sangat bergantung pada protein tersebut untuk dapat berkembang, dan oleh karena itu jika kami dapat menghalangi pasokan ELF5 pada tumor itu, maka kami dapat membatasi pertumbuhannya," kata Ormandy.

Ia menambahkan, "Jika kami dapat mengembangkan obat yang secara khusus menyasar ELF5, maka hal itu mungkin akan sangat berguna bagi para perempuan."
(Uu.G005/RN)

Editor: Priyambodo RH

 

Sumber: antaranews.com