User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Sebuah studi terbaru mendapati kalau pasien diabetes yang menderita kanker indung telur dan mengkonsumsi obat metformin memiliki angka kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak menggunakan obat itu.

Metformin adalah obat yang diberikan secara luas untuk mengobati diabetes. Penelitian sebelumnya oleh peneliti berbeda telah memperlihatkan sejumlah khasiatnya bagi kanker jenis lain. Studi baru ini pun menambahkan kanker indung telur dalam daftar tersebut.

 

Temuan tersebut, yang disiarkan daring di jurnal Cancer pada Senin (3/12), mungkin memainkan peran penting dalam penelitian mengenai bagaimana menggunakan obat yang ada untuk mengobati penyakit baru atau berbeda.

Para peneliti membandingkan penyintasan 61 pasien kanker indung telur yang menggunakan metformin dan 178 pasien yang tidak mengkonsumsi metformin. 

Sebanyak 67 persen pasien yang menggunakan metformin selamat setelah lima tahun, dibandingkan dengan 47 persen mereka yang tidak menggunakan obat itu.

Ketika para peneliti tersebut menganalisis berbagai faktor seperti indeks massa tubuh pasien, parahnya kanker mereka, jenis kemoterapi dan kualitas operasi, mereka mendapati pasien yang mengkonsumsi metformin hampir empat kali lipat lebih mungkin untuk selamat, dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan obat itu.

"Studi kami memperlihatkan peningkatan penyintasan pada perempua yang menderita kanker indung telur dan menggunakan metformin," kata penulis bersama studi itu Sanjeev Kumar, ahli onkologi ginekologi dari di Mayo Clinic --yang berpusat di Minnesota.

"Hasilnya membesarkan hati, tapi seperti halnya studi retrospektif, kami tak bisa memantau banyak faktor untuk mengatakan apakah ada dampak dan penyebab langsung. Meskipun begitu, ini adalah bukti manusia lebih jauh mengenai potensi dampak bermanfaat dari obat yang banyak digunakan dan relatif aman bagi manusia."

Hasil itu bisa melicinkan jalan bagi penggunaan metformin dalam percobaan acak secara luas untuk mengobati kanker indung telur, kata para peneliti tersebut. Mengingat tingginya angka kematian akibat kanker indung telur, para peneliti itu mengatakan ada kebutuhan sangat besar untuk mengembangkan terapi baru untuk mengobati penyakit tersebut.

Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Sumber: Antara