User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Selain melalui pengobatan, dukungan keluarga dan sahabat juga penting untuk penyembuhan kanker.

Pengobatan kanker payudara yang dialami wanita bukan hanya perawatan melawan penyakitnya. Adapun yang paling penting adalah dukungan dan kekuatan dari lingkungan terdekat untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Dunia sepertinya runtuh saat Dinda Nawangwulan,37,divonis menderita kanker payudara pada 2006 lalu.

Awalnya dia mendapati benjolan abnormal sebesar ujung jari kelingking di payudara sebelah kanannya.Merasa khawatir, Dinda lantas mengunjungi dokter untuk memeriksakannya. Dugaannya ternyata terbukti, dia mengidap kanker. Namun,wanita yang berprofesi sebagai make-up artist ini tak begitu saja percaya.Baru saat pemeriksaan ketiga,Dinda pasrah dan mulai melakukan serangkaian perawatan untuk mengobati kanker payudaranya.

Sempat down,mempertanyakan kenapa saya yang kena. Padahal,riwayat kanker di keluarga juga tidak ada,”ujarnya. Akibat kanker tersebut, Dinda harus berhenti bekerja dan menjalani operasi pengangkatan sebelah payudaranya. Cobaan tak berhenti sampai di situ.Dokter menemukan sel kanker menyerang kelenjar getah beningnya.

Dia pun menjalani operasi lagi,juga melakukan 29 kali kemoterapi,lanjut pengobatan dengan tamoxifen hingga lima tahun. ”Ini peringatan dari Tuhan, mungkin karena saya enggak jaga badan.Selalu makan sembarangan dan menjalankan pola hidup yang tidak sehat,” tuturnya.Kesedihan semakin bertambah saat Dinda harus ditinggal sang suami tercinta, Alexander A Abimanyu karena serangan jantung pada 2010 lalu,tak lama sesudah mereka menikah.

Meski didera cobaan hidup yang begitu berat,wanita kelahiran Jakarta,12 Oktober 1975, ini tak mau terus terpuruk.Dia bangkit dan melawan.Saat rambutnya berguguran karena kemoterapi, Dinda justru mencukur licin kepalanya. Pembawaannya yang ceria malah membuat orang mengira bahwa dia botak karena fashion. Kini,Dinda sudah dinyatakan bersih dan tidak ada jaringan yang berkembang maupun penyebaran di tubuhnya.

Untuk membantu menyebarkan semangat positif kepada sesama penderita kanker,dia mulai mencoba berbicara sharing dari talkshow ke talkshow kepada para penderita kanker.Dinda juga membentuk Pink Shimmer Inc,sebuah badan nirlaba yang memberi dukungan kepada para penderita kanker payudara.

”Visinya terutama adalah mengambil peran dalam memberikan dukungan dan empowerment terutama bagi wanita yang terkena kanker,”katanya saat kegiatan peduli kanker dalam rangka memperingati International Breast Cancer Dayoleh Pink Shimmer Inc di Atrium Plaza Senayan,Senayan, Jakarta. Dia berharap,pasien kanker payudara tetap dan dapat meningkatkan kualitas hidup dalam proses penyembuhan dan pengobatan melawan kankernya.

”Program kami itu lebih banyak bersifat sharing dan support dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas kecantikan wanita, baik inner beauty maupun outer beauty,”sebut Dinda. Dalam kesempatan tersebut, dr Samuel J Haryono SpBK (Onk),spesialis bedah onkologi dari RS Pusat Kanker Nasional Dharmais menyatakan,kaum hawa memang rentan menderita kanker,terutama kanker payudara.

Kanker ini dapat menyerang usia produktif sekitar 30-45 tahun,namun bisa juga saat usia lanjut atau biasa disebut cancer age. ”Penyebabnya multifaktorial, tidak ada sebab khusus, tapi risk faktor-nya bisa dari hormonal,genetik, lifestyle, dan ini masih jadi suatu studi,” sebut Samuel.Deteksi dini dengan melakukan periksa payudara sendiri (sadari),menurut dia,harus dilakukan secepatnya, terlebih jika ada riwayat keluarga yang sudah terkena penyakit tersebut.

Namun,bukan berarti Anda yang tidak memiliki riwayat kanker payudara akan terbebas dari penyakit ini.Itu karena gaya hidup tak sehat sangat berperan dalam mengembangkan sel kanker.Untuk pengobatan, Samuel mengimbau pasien sebaiknya melakukan pengobatan secara medis. Hal ini dilakukan untuk mengobati penyakit tersebut hingga ke akarnya.

Karena semakin cepat ditangani,semakin cepat pula dipulihkan sehingga tidak menjadi beban keluarga karena menyedot biaya perawatan yang tidak sedikit.” Pengobatan alternatif atau herbal,menurut peraturan pemerintah,hanya sebagai komplementer atau penambah,” imbuh Samuel. Pengobatan alternatif,dia menilai,tidak dapat digunakan sebagai obat utama,tetapi sebagai pendamping.Sementara itu,pencegahan sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga pola hidup. 

 

Sumber: health.okezone.com