User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Untaian kecil DNA yang mengapung seperti ubur-ubur bisa mengambil dan menahan sel tumor dalam aliran darah. Para ilmuwan membangun perangkat mikrochip dalam untai panjang DNA yang mengapung dalam aliran darah. Inspirasi dari tentakel ubur-ubur ini dapat membantu pasien kanker melawan penyakit yang menakutkan itu.

Perangkat ini dapat digunakan untuk menghitung dan menyortir sel-sel kanker. Informasi ini kemudian akan dijadikan indikator penting seberapa baik kemoterapi atau perawatan lainnya bekerja. Dokter perlu mengetahui apakah sel-sel kanker tersebut tersingkir atau malah mengembangkan kekebalan dirinya.

"Kuncinya adalah untuk mengetahui obat mana yang mempan terhadap sel-sel itu," ujar Jeffrey Karp, penulis makalah yang diterbitkan di Proceedings of the Natural Academy of Science, sekaligus direktur utama Center for Regenerative Therapeutics at Brigham and Women''s Hospital di Boston. Menurut dia, seringkali sel-sel dalam aliran darah berada pada konsentrasi yang sangat rendah. Akibatnya, sulit mengisolasi sel-sel itu untuk dipelajari secara biologi sel. Sehingga dapat menentukan jenis kemoterapi yang tepat untuk digunakan.

"Kami terinspirasi oleh ubur-ubur yang memiliki tentakel panjang ini jauh dari tubuhnya," ujar Karp. Mereka mengambil untaian pendek DNA (aptamers) yang mengikat permukaan sel kanker yang ditargetkan. Kemudian mereka menyalin ratusan kali menggunakan rolling circle amprification. Dengan menghubungkan aptamers, mereka datang dengan puluhan helai bahan mikron panjang.

Salah satu ujung untai terhubung ke mikrocip dan lainnya mengapung bebas dalam aliran darah. Sel-sel kanker tersebut mengapung dan hanyut dalam darah. Aptamers mengikat mereka dimanampun meereka menyentuhnya. "Seperti ketika ubur-ubur meraih makanan," kata Karp.

Dalam proyek lain, Karp meneliti lengketnya kaki tokek, reniknya laba-laba dan punggung landak untuk mendapatkan jenis perangkat medis baru manusia. "Beralih ke alam, kita bisa mendapatkan ide untuk memikirkan dan membantu kita berpikir keluar dari kotak," kata Karp.

Jeffrey Chalmers, profesor di Ohio State University menyukai ide ini. "Pendekatan ubur-ubur ini menarik dan data awalnya terlihat menjanjikan," ujar Chalmers, seorang ahli dalam teknologi menyortir sel. Ia mengatakan salah satu tantangan dalam setiap penyortiran jenis sel adalah menentukan identitas sel kanker. Pasalnya, sulit membedakan sel kanker dengan non kanker yang keduanya diproduksi dalam tubuh.

 

Sum ber: tempo.co