User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Kanker kolorektal menjadi salah satu penyakit yang perjalanannya lambat. Diperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya kanker kolorektal itu adalah 15 hingga 20 tahun.

Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh di daerah usus besar (kolon) dan anus (rektum). Kanker ini merupakan jenis kanker yang paling dipengaruhi oleh gaya hidup, yakni asupan makanan tinggi lemak dan protein serta rendah serat.

Umumnya penyakit kanker usus dialami penderita yang berusia di atas 40 tahun. Namun kini banyak orang muda berusia di bawah 40 tahun didiagnosa menderita penyakit ini. Gaya hidup ditengarai sebagai pemicu munculnya penyakit kanker usus pada usia muda.

Kanker kolon (usus besar) menempati urutan keempat di kelompok penyakit kanker sebagai penyebab kematian. Tingkat kematiannya mencapai 608 ribu kematian di seluruh dunia. Sementara itu, sebanyak 60 persen kasus justru terjadi di negara berkembang. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat yang kebarat-baratan.

“Dulu kanker ini dianggap sebagai penyakit orang kaya. Sekarang dengan mudahnya kita mendapat junk food, ini bisa menyerang siapa saja,” kata Dr Aru Wisaksono Sudoyo, PhD, FACP, ahli onkologi senior di Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu.

Aru menambahkan, sebenarnya, selain menjalani gaya hidup lebih sehat, penyakit ini bisa dicegah dengan screening dan deteksi dini. Deteksi dini yang dimaksudkan adalah pemeriksaan colok dubur, pemeriksaan darah samar, kolonoskopi, dan enema barium (memasukkan cairan barium ke dalam poros usus besar). Banyak masyarakat enggan melakukan deteksi dini karena merasa tidak mungkin terkena kanker usus besar.

Selain deteksi dini, tiap orang disarankan tahu apakah dia punya risiko lebih besar. Misalnya apakah punya pola diet rendah serat, tinggi lemak, obesitas, kecanduan merokok, serta usia dan pertambahan usia. Penderita kanker kolon terbanyak adalah orang berusia 60-70 tahun.

Deteksi dini menjadi semakin penting manakala ada indikasi rasa sakit perut yang tidak hilang dengan pengobatan maag atau diare biasa. Perhatikan juga perubahan pola buang air besar, seperti feses berlendir, seperti kotoran kambing atau kerikil. “Berlendir dan berwarna lebih gelap ini adalah pertanda sudah ada pendarahan di dalam,” kata Aru.

Lantas, bagaimana proses penyebaran dan pengembangan sel kankernya?

Kanker usus besar ini cenderung menyebar secara lambat dan terlokalisir atau tidak menyebar ke bagian lain, dalam waktu yang lama. Dengan demikian, kanker ini dapat diobati. Jika terdeteksi secara dini dan segera diobati sebelum menyebar ke limfomodus, kesempatan untuk hidup lebih besar.

Kelainan ini biasanya dimulai dengan pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau pada polip. Kemudian kanker akan mulai memasuki dinding usus, kelenjar getah bening hingga hati. Pada Stadium 0. Ada sel abnormal atau polip yang ditemukan di bagian terdalam lapisan usus besar.

Stadium I, polip mulai berkembang menjadi kanker dan menyebar ke bagian tengah lapisan usus besar tapi belum menembus usus. Harapan hidup dalam lima tahun 85-95 persen. Stadium II, kanker menyebar ke organ-organ terdekat. Biasanya sudah menembus usus. Harapan hidup lima tahun 60-80 persen.

Stadium III, kanker sudah menyebar ke dinding ke organ-organ terdekat serta kelenjar getah bening. Harapan hidup sampai dengan lima tahun 30-60 persen. Stadium IV, kanker sudah mengenai kelenjar getah bening dan organ lain seperti hati dan paru-paru. Harapan hidup lima tahun kurang dari 5 persen.

Bagaimana pencegahannya ?

Gaya hidup modern seperti makan tidak teratur dan terlalu banyak mengkonsumsi makanan olahan, bukan saja memaksa usus besar menghadapi berbagai kebiasaan tidak alami, tapi juga mengundang risiko mengidap penyakit yang berujung pada kematian, yakni kanker usus besar (kanker kolorektal).

Melalui berbagai penelitian epidemiologis, telah terbukti peran serat sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan komponen penting dalam terapi gizi. Kecukupan konsumsi serat pangan dari sayur dan buah pada pola makan sehari-hari dapat mengurangi risiko kanker usus hingga 40%.

Pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang kaya serat, vitamin, dan mineral serta berolahraga secara teratur menjadi upaya pencegahan penyakit sejak dini. Lakukan tes kesehatan secara berkala terutama yang berkaitan dengan faktor genetis untuk mendeteksi gejala dan penyebab kanker usus besar sejak dini.

 

Sumber: inilah.com