User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Kemajuan teknologi memberikan beberapa manfaat. Salah satunya memberikan harapan bagi penderita kanker yang telah menjalani kemoterapi tetap bisa memiliki keturunan dengan cara pembekuan sel telur bagi perempuan dan pembekuan sperma bagi laik-laki sebelum menjalani kemoterapi.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr Susan Melinda SpOG, mengatakan, tidak sedikit pasangan suami istri yang datang ke Melinda Vertiliy Center untuk memiliki keturunan.

Namun setelah dilakukan rangkaian pemeriksaan ternyata istri atau suaminya penderita kanker dan sudah menjalani kemoterapi.

Hal ini tentu sulit karena kemoterapi menghantam sel-sel yang sangat rentan, termasuk sel telur atau sperma.

"Bahkan ada pasangan yang penderita kanker karena tidak percaya sampai rela dua kali dibiopsi. Namun hasilnya sama, sudah sulit karena sel telur atau spermanya telah rusak akibat terapi. Padahal mereka masih usia muda dan stadium rendah yang tentunya ingin punya anak ketika sembuh nanti," kata Susan pada acara diskusi tentang Bayi Tabung di Jalan Hasanudin, Bandung, Kamis (13/9/2012).

Sebagai langkah antisipasi, kata Susan, mereka yang divonis kanker dan harus menjalani kemoterapi bisa membekukan sel telur atau sperma. Caranya sebelum kemoterapi, mereka bisa membekukan sel telur atau sperma dan disimpan sampai mereka siap untuk memiliki anak.

"Jadi prosesnya hampir sama seperti bayi tabung hanya saja, pasien penderita kanker ini bisa menyimpan sel telur atau spermanya ini dalam jangka waktu lama sampai mereka siap untuk memiliki anak," katanya.

Meski begitu, ujarnya, ada syarat yang harus dipenuhi salah satunya faktor usia terutama bagi perempuan. Mereka yang sudah mencapai usia 40 tahun tentu sulit untuk mengikuti program ini, karena kondisi sel telur juga sudah kurang baik.

Kecuali perempuan penderita kanker ini sudah menitipkan sel telur sebelum kemoterapi dan sebelum usia 40 tahun.

Dun Afrika Selatan

 

"Meski perempuan ini sudah sembuh di usia 40 namun sel telurnya yang disimpan sebelum usia tersebut, masih bisa memiliki anak," katanya.

Canggihnya lagi, sel telur atau sperma yang dibekukan bisa tahan tersimpan sampai 100 bahkan 200 tahun. Sedangkan untuk proses pembekuan, ujarnya, proses pembekuan sperma lebih gampang daripada pembekuan sel telur.
Untuk pembekuan sperma, pasien hanya perlu mengeluarkan spermanya lewat masturbasi. Sedangkan pada perempuan prosesnya lebih panjang. karena harus suntik hormon terlebih dahulu. Teknologi ini sudah dimiliki Melinda Fertility Center dan bisa membantu penderita kanker yang ingin memiliki keturunan.

"Namun teknologi ini kurang dukungan. Seharusnya dokter yang melakukan pengobatan kanker juga memiliki kepekaan untuk menyarankan pasiennya melakukan hal tersebut. Karena kasihan, usia masih muda dan kanker stadium rendah hanya karena kemoterapi tidak bisa punya anak," katanya.

Terkait biaya, untuk proses pembekuan sel telur atau sperma dikenakan biaya sekitar Rp 30 juta, karena alat-alat pendukungnya masih impor dan hanya sekali pakai. Namun masalah biaya juga tergantung dari sel telurnya.

Ia juga menambahkan, teknologi ini sudah mulai dilakukan di Singapura. Sebelumnya pembekuan sel telur belum bisa dilakukan karena sel telur lebih rentan kerusakan. Dan pembekuan dilakukan hanya pada embrio.
Namun 10 tahun terkahir ini dengan kecanggihan teknologi hal ini sudah bisa dilakukan.

Banyak yang Mandul
Ketidaksuburan atau infertil di kalangan kaum lelaki mengalami peningkatan cukup signifikan yakni mencapai 40-5 persen. Kondisi ini dialami lelaki di dunia termasuk Indonesia.
Penyebabnya ternyata dikarenakan penggunaan celana yang ketat serta kerap melakukan sauna atau mandi uap panas.

"Selain itu, penyebab lainnya sperti life style dan makan makanan yang tidak sehat," kata Susan.

Menurutnya, seorang lelaki bisa memiliki sperma di atas 20 juta. Untuk membuahi satu sel telur dibutuhkan 50.000 hingga 100.000 sperma. Dari banyaknya sperma tersebut, hanya satu yang akan membuahi sel telur.

"Jadi masalah infertil bisa ditangani. Kita lihat dulu, apa penyebab ketidaksuburan ini. Bila sepasang suami istri tidak juga memiliki anak, cek masing-masing. Permasalahannya di mana," katanya.

 

Sumber:  tribunnews.com