User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Saat ini mungkin masih banyak wanita yang bertanya-tanya apakah terapi estrogen bagus buat mencegah kanker payudara atau sebaliknya.

Sebuah studi baru yang terbit di Journal of the American Medical Association, yang menganalisis data dari Women's Health Initiative, menyebutkan bahwa ada penurunan risiko kanker payudara pada wanita yang menjalani terapi estrogen dalam jangka pendek.

Temuan ini jelas bertentangan dengan pendapat yang beredar selama ini bahwa terapi estrogen - yang pernah diresepkan untuk mengatasi gejala menopause dan untuk mencegah penyakit kronis -- dapat memicu kanker payudara reseptor estrogen positif.

Faktanya, hormon ini seperti pisau bermata dua, demikian editorial dalam Cancer Prevention Research.

"Estrogen buruk pada saat yang tepat dan estrogen juga bagus pada saat yang tepat," kata salah satu penulis editorial, V. Craig Jordan.

Memang benar estrogen diperlukan bagi sel kanker untuk tumbuh dan berkembang biak, tapi ketika sel kanker di lingkungan di mana estrogen tidak ada untuk beberapa saat, sel kanker itu akan terbunuh oleh datangnya hormon secara tiba-tiba, ujar Jordan.

Penurunan kadar estrogen dapat terjadi beberapa tahun setelah menopause, ketika produksi estrogen secara alami berhenti atau bahkan setelah seorang wanita menjalani terapi anti-estrogen untuk kanker payudara.

Pada saat terjadi penurunan kadar estrogen seperti itu, Jordan mengatakan sel-sel kanker tumbuh tidak bergantung dengan estrogen. Sel-sel ini akan belajar tumbuh di lingkungan dengan kadar estrogen rendah.

"Ketika sel-sel ini mulai membantuk tumor dan kita mengembalikan estrogen dalam kadar yang normal, sel-sel itu akan melihat ini sebagai sinyal kematian karena mereka tiba-tiba dihadapkan pada bahan bakar beroktan tinggi dengan konsentrasi tinggi. Ini benar-benar overdosis. Seperti seorang yang kelaparan, Anda tidak bisa hanya mengatakan silakan duduk dan makan semua yang Anda inginkan di McDonald, sebab ini akan membunuh mereka," imbuh Jordan, yang merupakan direktur ilmiah di Lombardi Cancer Center di Georgetown University.

Penting untuk diingat bahwa terapi khusus estrogen diberikan hanya kepada wanita yang pernah menjalani histerektomi, karena ini dapat meningkatkan risiko kanker endometrial. Wanita yang masih memiliki uterus diresepkan untuk menjalani terapi sulih hormon gabungan  (estrogen plus progestin), yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Juga perlu dicatat bahwa sel kanker payudara tidaklah statis.

"Seperti bakteri, sel-sel ini layaknya sasaran yang bergerak. Mereka ini berubah dan sering bereaksi terhadap lingkungan mereka," tutur Dr. Jennifer Litton, asisten profesor pengobatan kanker di University of Texas MD Anderson Cancer Center di Houston. "Ini layaknya seleksi alam mini. Jika Anda memaparkan sel ini ke salah satu zat, ia akan bermutasi dan menemukan cara untuk tahan terhadap zat tersebut."

Itulah mengapa banyak wanita menjadi kebal terhadap terapi atau pengobatan tertentu dan perlu alternatif yang dapat mengecoh sel yang terus berubah ini. 

Tim peneliti dari studi JAMA ini menyimpulkan bahwa para wanita tidak perlu cemas dengan kemungkinan meningkatnya risiko kanker payudara akibat dari terapi singkat estrogen.

Apalagi, sebelum memutuskan melakukan terapi hormon, perlu dipertimbangkan riwayat keluarga dan faktor risiko lain terhadap kanker payudara.

"Tapi jika Anda memiliki tumor payudara, jangan sekali-sekali mempertimbangkan untuk menjalani terapi hormon," kata Jordan. "Jika wanita ini sudah menopause, mereka harus juga mendapatkan tamoxifen atau inhibitor aromatase. Ini merupakan terapi terbaik."

Ia menambahkan bahwa dalam eksperimen, dokter memiliki kewenangan untuk meresepkan estrogen untuk merawat wanita dengan kanker payudara metastatis yang telah mengembangkan resistensi terhadap terapi anti-hormon.

 

Sumber: go4healthylife.com