User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Kemoterapi merupakan salah satu terapi pengobatan standar untuk segala jenis kanker disamping operasi dan penyinaran.

Tujuan dilakukannya kemoterapi adalah menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker pada tubuh pasien. Namun siapa sangka jika sebuah studi menyatakan bahwa kemoterapi justru meningkatkan pertumbuhan sel-sel kankernya.

Sekelompok peneliti dari Amerika Serikat ini menemukan 'sesuatu yang sama sekali tak terduga' ketika tengah berupaya mencari penjelasan mengapa sel-sel kanker begitu ulet di dalam tubuh manusia namun mudah dibunuh di dalam laboratorium.

Lalu setelah peneliti menguji efek kemoterapi pada jaringan yang didapatkan dari sejumlah pria yang mengidap kanker prostat, mereka menemukan bukti kerusakan DNA pada sel-sel sehat pasca terapi tersebut.

Pada studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, peneliti menemukan bahwa sel-sel yang sehat menjadi rusak karena kemoterapi melepaskan banyak protein yang disebut WNT16B. Sialnya, protein ini bisa meningkatkan kelangsungan hidup sel-sel kanker.

"Peningkatan WNT16 B benar-benar tak terduga sebelumnya. Ketika WNT16B dilepaskan maka protein ini akan berinteraksi dengan sel-sel tumor di sekitarnya dan mendorong mereka untuk tumbuh, menyerang dan yang paling penting menolak terapi berikutnya (resisten)," ujar salah satu peneliti, Peter Nelson dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, Seattle.

Saat menjalani kemoterapi, awalnya tumor akan merespons dengan baik namun lama-kelamaan terjadi pertumbuhan kanker yang cepat lalu menyebabkan resistensi terhadap kemoterapi berikutnya.

"Hasil studi kami mengindasikan bahwa kerusakan itu hanya terjadi pada sel-sel tumor yang jinak... namun hal ini bisa saja berkontribusi secara langsung terhadap pertumbuhan kinetik aatau pergerakan tumor," terang peneliti.

Peneliti juga telah memastikan bahwa kondisi yang sesuai dengan temuan ini seringkali terjadi pada sel tumor penderita kanker payudara dan kanker ovarium.

"Meski begitu, temuan ini juga membuka jalan untuk mencari pengobatan baru yang lebih baik. Misalnya, sebuah antibodi WNT16B yang diberikan bersamaan dengan kemoterapi mungkin bisa meningkatkan responsnya (untuk membunuh lebih banyak sel tumor). Bisa juga dengan membuat terapi yang dosis racunnya lebih kecil," pungkas Nelson seperti dilansir dari medindia,

 

Sumber:   health.detik.com