Dalam kasus ini, sel lain dalam sel B memberi tanda. Tanda ini sebenarnya adalah perintah untuk melakukan "bunuh diri". Terakhir, enzim dalam inti sel diaktifkan dan menghancurkan DNA sel. Tubuh dilindungi oleh mekanisme auto-kontrol yang berfungsi sempurna. Akhirnya hanya sel B yang mempro-duksi antibodi perusak musuh saja yang akan tetap hidup.

 

Pada mulanya sel B hanya terdiri atas satu inti sel kompak dan sedikit sitoplasma. Sel B lantas mengalami perubahan menakjubkan saat ber-temu dengan antigen. Mereka membelah diri berkali-kali dan mem-bangun ribuan titik perakitan da-lam sitoplasma untuk membuat an-tibodi. Mereka juga membuat sis-tem kanal untuk pengemasan dan pengiriman antibodi. Dalam satu jam, satu sel B mampu memompa keluar lebih dari sepuluh juta molekul antibodi.

 

Inilah sel tunggal yang meng-ubah dirinya menjadi pabrik yang cukup andal dalam memproduksi sepuluh juta senjata per jam ketika menghadapi musuh. Kalau kita ingat bahwa sel ini dapat memproduksi senjata berbeda untuk masing-masing musuh yang jutaan banyaknya, maka kita dapat lebih memahami sebesar apa keajaiban yang kita bicarakan di sini.

 

Sebagian sel B menjadi "sel pengingat". Sel ini tidak langsung turut serta dalam pertahanan tubuh. Mereka bertugas menyimpan catatan mengenai musuh yang telah dihadapi untuk mempercepat persiapan perang di masa datang. Ingatan mereka sangat kuat. Ketika tubuh kembali bertemu dengan musuh yang sama, dengan cepat dapat dihasilkan senjata yang sesuai. Dengan demikian pertahanan menjadi lebih cepat dan lebih efisien.

 

Jika segumpal daging yang berukuran seperseratus milimeter hanya memiliki sepotong informasi, dan menggunakan informasi ini untuk kepentingan manusia dengan cara paling akurat, itu saja sudah merupakan suatu keajaiban. Akan tetapi, yang sedang kita bicarakan di sini jauh lebih hebat dari itu. Sel menyimpan jutaan informasi untuk kepentingan manusia dan menggunakan informasi itu dengan begitu tepat dalam berbagai kombinasi jauh di luar pemahaman manusia. Manusia dapat bertahan hidup berkat kearifan yang ditunjukkan oleh sel-sel ini.

 

Sel pengingat adalah sel yang khusus diciptakan untuk melindungi kesehatan manusia. Dalam penciptaannya, Allah melengkapi sel ini dengan kemampuan mengingat yang kuat. Jika tidak, tidaklah mungkin bagi sel ini untuk mengembangkan strategi dengan sendirinya dan dalam strateginya itu ada tanggung jawab untuk menyimpan informasi. Lebih jauh, bahkan sel ini tidak menyadari akan kebutuhan untuk melindungi kesehatan; apalagi kebutuhan untuk menggunakan suatu strategi.

 

Selain itu, ada pertanyaan penting lain yang perlu dijawab mengenai ingatan kuat sel pengingat. Setiap detik, delapan juta sel manusia normal mati dan diganti oleh sel baru. Oleh karena itu, metabolisme terus menerus memperbarui dirinya. Akan tetapi, waktu hidup sel pengingat jauh lebih panjang dari waktu hidup sel lainnya. Karakteristik ini yang membantu melindungi manusia dari penyakit berkat adanya informasi dalam sel pengingat. Namun sel pengingat ini tidaklah kekal, lambat laun mereka akhirnya akan mati. Pada tahap ini ada suatu kenyataan yang sangat mengejutkan. Sebelum mati, sel pengingat mengalihkan informasi yang mereka miliki kepada generasi berikutnya. Manusia sangat tertolong dengan adanya sel pengingat ini karena dengan cara ini manusia tidak perlu terkena penyakit yang sama yang telah dialami pada masa bayi (seperti cacar, gondongan, dan lain-lain).


 

Bagaimana Cara Sel B Mengenali Musuh?

 

Dalam keadaan benar-benar siap berperang, sebelum mempertahankan tubuh, sel B belajar membedakan musuh dari sel tubuh. Mereka tak perlu berusaha terlalu keras untuk itu, karena sel ini dan antibodi yang diproduksinya mampu mengenali musuh langsung dari ben-tuknya, tanpa memerlukan bantuan. Reseptor di permukaan sel telah diprogram untuk menemukan antigen lalu mengikatkan diri pada beberapa bagian kecil antigen. Dengan demi-kian antigen diidentifikasi sebagai benda asing. Dengan cara ini sel B dapat dengan mudah mengenali antigen semisal bakteri.

 

Apa Fungsi Sel B?

 

Sel B layaknya penjaga yang selalu was-pada kalau-kalau ada mikroba. Ketika mereka menemukan penyerang, mereka dengan cepat membelah diri dan memproduksi antibodi. Antibodi ini berikatan dengan mikroba seperti reseptor sel B. Di penghujung kerja keras fagosit dan sel T, sel musuh yang oleh antibodi ditandai sebagai benda asing, dikeluarkan dari tubuh. Pada saat menonaktifkan musuh dengan jutaan antibodi, sel B seka-ligus menandainya untuk sel pembunuh. Di sini, ada satu poin lain yang penting, yang sama pentingnya dengan menandai dan memusnahkan sel-sel asing. Bagaimana sedikit gen memproduksi sekian banyak antibodi?

 

Sebagaimana dibahas secara terperinci pada bagian "antibodi", sel B memanfaatkan gen di dalam tubuh manusia untuk memproduksi anti-bodi. Namun demikian, jumlah gen di dalam tubuh manusia lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah antibodi yang dihasilkan. Ini bukan masalah bagi sel B. Walau ada keterbatasan ini, mereka berhasil memproduksi kira-kira dua juta jenis antibodi per jam.  Sel B berinteraksi dalam berbagai kombinasi dengan gen yang ada untuk menghasilkan produksi seperti disebutkan di atas. Secara harfiah tidaklah mungkin satu sel mampu memikirkan kombinasi ini. Sel-sel yang tidak memiliki kesadaran ini diberi kemampuan untuk mengikatkan diri dalam kombinasi seperti ini atas kehendak Allah

 

Tak ada kekuatan di langit dan di bumi selain Allah yang mampu memberi perintah bahkan hanya kepada satu dari triliunan sel. Hanya dengan kehendak Allah-lah suatu sel dapat melakukan operasi matematis seperti memproduksi senjata yang paling sesuai untuk menonaktifkan setiap musuh yang menyerang sel.

 

Pasukan Pemberani: Sel T

 

Setelah diproduksi di sumsum tulang, sebagian limfosit bermigrasi ke timus. Limfosit ini, yang di sini membelah diri dan matang, disebut sel T. Sel ini matang membentuk dua kelompok: sel T pembunuh dan sel T penolong. Setelah pelatihan selama tiga minggu, sel T bermigrasi ke limpa, nodus limfa, dan jaringan usus untuk menunggu saat misinya.

 

Jalur Sel T

 

Sama seperti sel B, sel T juga merupakan sel yang sederhana pada awalnya. Bedanya, sel T harus melalui jalan yang jauh lebih rumit dan melewati serangkaian ujian yang sulit untuk menjadi sel T yang siap melaksanakan misinya.

 

Pada ujian pertama, diperiksa apakah sel ini dapat mengenali musuh atau tidak. Sel ini mengenali musuh dengan bantuan "KSU" (Kompleks Setara-jaringan Utama, MHC = Major Histocompatibility Complex), yang ditempatkan di permukaan musuh. KSU adalah molekul yang memaksa antigen melewati serangkaian proses kimia dan menyerahkannya ke-pada sel T.

 

Pada akhirnya, hanya sel yang mampu mengidentifikasi musuh saja yang dapat hidup, yang lain tidak ditoleransi dan langsung dimusnahkan.

 

Kemampuan untuk mengenali sel musuh saja belum cukup untuk menjamin hidup sel T. Sel ini juga harus berpengetahuan luas mengenai zat-zat yang tidak berbahaya dan jaringan tubuh manusia yang normal, sehingga dapat mencegah konflik yang tidak diperlukan, yang akhirnya akan merugikan tubuh.

 

Bakteri dan virus membawa senyawa kimia di permukaannya, yang disebut antigen. Sebagian limfosit menghasilkan antibodi untuk mengikatkan diri dengan antigen, sehingga memudahkan sel darah putih menelan bakteri tersebut. Antibodi mempunyai ciri khas yang sangat berbeda dan mereka hanya dihasilkan untuk dan mengikatkan diri kepada antigen khusus. Sebagaimana diperlihatkan pada gambar di atas, antigen (segi tiga) dengan pas sesuai dengan antibodi, lingkaran dengan potongan segi tiga. (kiri atas). Namun antibodi yang sama (bawah) tidak cocok dengan antigen

 


Diferensiasi Sel T Menurut Perintah yang Diterimanya

 

Perang belumlah berakhir untuk sel T. Sebagian calon sel T memusnahkan diri sendiri setelah menerima satu sinyal khusus dari sel lain. Sangat sedikit informasi tentang sinyal yang menyebabkan sel T memprogramkan kematiannya, atau melanjutkan hidup, atau menjadi dewa-sa dan mentransformasikan dirinya. Dari sudut pandang ilmiah, hal ini masih menjadi salah satu misteri sistem pertahanan yang belum terpecahkan. Banyak sel serupa di dalam tubuh kita menerima sinyal dari suatu tempat, dan memulai fungsinya setelah menerima sinyal itu. Bagaimanakah sel ini, yang saling mengirim sinyal antara satu dengan lainnya, mengetahui kapan dia perlu mengirim sinyal? Mahlon B. Hoagland juga mengangkat pertanyaan yang sama dalam bukunya The Roots of Life:

 

Bagaimana sel-sel tahu kapan harus berhenti tumbuh? Apa yang memberi tahu mereka bahwa ukuran organ yang mereka susun belum sesuai?…Bagaimanakah sifat sinyal yang menghentikan pembelahan diri? Kita belum tahu jawabannya dan kita terus mencari jawabannya.

 

Memang, misteri tentang sistem sinyal di antara sel masih belum terpecahkan. Satu sel batang biasanya diharapkan membelah diri dan membentuk dua sel baru dengan sifat-sifat yang sama. Namun, ada semacam tombol tersembunyi di dalam salah satu sel yang menyebabkan transformasi mendadak dalam sel. Sel yang baru ini adalah sel T yang akan berperang untuk tubuh manusia. Hal ini membawa kita kepa-da pertanyaan: Mengapa sebuah sel mentransformasikan dirinya menja-di sel lain yang sangat berbeda ?

 

Sains belum dapat menjawab pertanyaan ini. Sains dapat menjawab pertanyaan mengenai bagaimana sel mentransformasikan dirinya, tetapi tidak pernah dapat menjelaskan mengapa sel ini menginginkan menjadi sel prajurit. Sains juga tidak dapat menjelaskan siapa yang memprogram sel supaya menjadi sel yang mempertahankan tubuh pada saat dibutuhkan.

 

Hanya mereka yang mengetahui adanya Allah yang dapat memahami sepenuhnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

 

 

 

 

 

Jenis-Jenis Sel T

 

Sel T terdiri atas tiga kelompok: sel T penolong, sel T pembunuh, dan sel T penekan. Setiap sel T memiliki molekul KSU khusus yang membuatnya mampu mengenali musuh.

 

Sel T Penolong

 

Sel ini dapat dianggap sebagai administrator di dalam sistem pertahanan. Pada tahap-tahap awal perang, ia menguraikan sifat-sifat sel asing yang diabsorpsi oleh makrofag dan sel penangkap antigen lainnya. Setelah menerima sinyal, mereka merangsang sel T pembunuh dan sel B untuk melawan. Stimulasi ini menyebabkan sel B memproduksi antibodi. Sel T pembunuh menyekresikan molekul yang disebut limfokin untuk merangsang sel lain. Molekul ini menghidupkan tombol pada sel lain dan mulai menyalakan alarm perang.

 

Kemampuan sel T penolong menghasilkan molekul yang meng-aktivasi molekul lain, merupakan proses yang penting. Pertama, produksi molekul ini berhubungan dengan strategi perang yang akan datang. Jelas sel T tidak dapat membuat strategi itu sendiri. Jelas pula bahwa strategi ini tidak datang hanya dengan suatu kebetulan belaka.

 

Lagipula, mengembangkan strategi belumlah cukup. Molekul di dalam sel, yang akan menyalakan tombol untuk memulai produksi pada sel lain, harus disintesis dengan tepat. Untuk itu, dia harus betul-betul tahu mengenai struktur kimia sel lawan. Satu kesalahan saja pada produksi molekul ini akan melumpuhkan keseluruhan sistem pertahanan. Ini karena suatu pasukan tanpa suatu komunikasi akan dimusnahkan bahkan sebelum pasukan ini meluncurkan pertahanannya.

 

Keberadaan molekul ini saja sudah cukup untuk membuktikan kemustahilan teori evolusi, karena prasyarat sistem pertahanan adalah adanya molekul ini sejak awal. Jika sel T penolong gagal menyiagakan sel lain dengan bantuan molekul limfokin, berarti tubuh manusia menyerah kepada virus.

 

Sel T Pembunuh

 

Sel T pembunuh adalah unsur paling efisien dalam sistem pertahanan. Pada bab-bab sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana virus dinonaktifkan oleh antibodi. Namun demikian, ada kasus saat antibodi tidak dapat mencapai virus yang telah menyerang suatu sel. Untuk kejadian seperti ini, sel T pembunuh membunuh sel yang sakit yang telah diserang oleh virus.

 

Pengamatan saksama mengenai cara sel T pembunuh membunuh sel yang sakit menyingkapkan suatu seni dalam penciptaan dan suatu kearifan yang sangat agung. Sel T pembunuh terlebih dahulu harus membedakan antara sel normal dan sel yang di dalamnya terdapat musuh yang bersembunyi. Sel T pembunuh mengatasi masalah ini dengan bantuan sistem molekul KSU yang telah ada padanya. Ketika mereka melihat sel yang telah diserang, mereka menyekresikan suatu bahan kimia. Sekresi ini melubangi membran sel dengan cara berbaris berdampingan sangat berdekatan dalam suatu lingkaran. Selanjutnya sel mulai bocor dan sel mati.

 

Sel T pembunuh menyimpan senjata ini dalam bentuk granular. Dengan demikian senjata kimia ini selalu siap digunakan. Para ilmuwan takjub ketika menemukan kenyataan bahwa sel memproduksi senjata-nya sendiri dan menyimpannya untuk digunakan pada masa yang akan datang. Bahkan lebih menakjubkan lagi adalah rincian cara sel ini memanfaatkan senjata kimianya.

 

Ketika musuh mendekati sel tuan rumah, mikrogranular ini bergeser ke ujung sel searah dengan musuh. Kemudian mikrogranular menyentuh membran sel melebur ke dalamnya dan sambil mengembangkan ukurannya, mikrogranular melepaskan zat yang ada di dalamnya.

 


Sel Pembunuh Alamiah: "PA"

 

Limfosit yang diproduksi di dalam sumsum tulang ini, juga tersedia di limpa, nodus limfa, dan timus. Fungsi mereka yang sangat penting adalah membunuh sel tumor dan sel pembawa virus.

 

Dari waktu ke waktu, sel-sel penyerang melakukan cara-cara yang jahat. Kadang mereka bersembunyi dengan sangat rapi di dalam sel tubuh sehingga baik antibodi maupun sel T tak dapat mengenali musuh ini. Segala sesuatu tampak normal dari luar. Dalam keadaan seperti itu, sistem pertahanan bagaimanapun menduga adanya anomali dan sel PA segera menuju daerah tersebut melalui darah. Limfosit pembunuh mengelilingi sel tempat musuh bersembunyi ini dan mulai mempermainkannya. Saat itulah sel musuh dibunuh oleh zat racun yang diinjeksikan ke dalamnya.

 

Bagaimana sel-sel ini mengenali musuh masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab. Reseptor yang seharusnya ada di permukaan dan memungkinkan mereka mengenali sel target belum ditemukan. Oleh karena itu mekanisme yang digunakan untuk mengenali musuh belum dipahami dengan jelas.

 

Dengan seluruh teknologi yang ada, manusia masih belum mampu menyelesaikan rincian yang digunakan oleh sistem ini untuk mengidentifikasi musuh. Barangkali kemajuan teknologi di masa datang akan memberikan seberkas sinar pada sistem ini sehingga masalah ini tidak lagi merupakan misteri. Ini juga akan menjadi bukti yang menyatakan kesempurnaan sistem yang ada sekarang dan bukti tentang rumitnya perencanaan yang terlibat dalam penciptaannya.

 


SEL DARAH

 

- Trombosit
Proses penggumpalan (koagulasi) darah sudah dianggap kejadian biasa yang sering terabaikan. Namun demikian, jika saja sistem sempurna yang memungkinkan penggumpalan darah ini tidak ada, manusia akan mengalami risiko yang cukup berarti dan bahkan pendarahan yang menyebabkan kematian hanya dari satu luka ringan. Trombositlah salah satu sel darah, diproduksi di sumsum tulang, yang melaksanakan tugas ini. Penggumpalan darah juga melibatkan suatu bahan yang disebut serotonin. Yang disebutkan terakhir ini berperan penting dalam reaksi alergi.

 

- Eosinofil
Sel darah ini memiliki kemampuan untuk melakukan fagositosis, yaitu memusnahkan setiap sel asing yang memasuki tubuh.

 

- Basofil
Basofil adalah sel darah berinti tunggal yang kasar dan besar. Jumlahnya dalam darah hanya sedikit, tetapi banyak di kulit, di dalam dan di sekitar limpa, serta di jaringan konektif usus.

 

- Neutrofil
Dengan suatu kualitas antibakteri, sel-sel darah ini melindungi organisme dari bahan benda-benda asing. Selain itu sel-sel ini membantu sistem pertahanan dengan kemampuan fagositosisnya
.

 

 

Sel yang Menyerahkan Antigen (Antigen Presenting Cells): "SMA"

 

Tugas sel ini adalah menyerahkan antigen (musuh) kepada sel T. Mengapa ada sel yang melaksanakan fungsi (tanggung jawab penting) seperti ini jelas membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Sel ini tahu bahwa sel T menjaga tubuh manusia. Sel ini mengenali musuh dan menyerahkan musuh yang ditangkapnya kepada sel T untuk melengkapi sel T dengan pengetahuan mengenai musuh.

 

Mengapa sel ini mau melakukan tugasnya? Menurut teori evolusi, sel ini seharusnya hanya memikirkan kesejahteraan dirinya sendiri. Akan tetapi ia melayani sistem, padahal tidak mendapat keuntungan darinya.

 

Yang lebih menarik, SMA sangat mengetahui kebutuhan sel T. Berdasarkan hal itu, SMA akan memecah sel musuh dan memberikan kepada sel T hanya urutan asam amino sel musuh saja. Berarti SMA bahkan mengetahui bahwa sel T akan mengekstrak informasi yang diperlukan dari urutan asam amino ini.

 

Sampai pada tahap ini, ada perlunya mengingat kembali satu hal: Kita menyebutkan kegiatan seperti "mengetahui", "menghitung", "berpikir", "melayani". Tanpa dipertanyakan lagi, semua kegiatan tadi membutuhkan suatu kesadaran tertentu. Mustahil makhluk hidup yang tak memiliki kesadaran melaksanakan kegiatan ini. Padahal, sekarang kita sedang membahas kemampuan ini sebagai kemampuan yang ada di dalam benda yang sangat kecil: sel biasa, kecil, dan tidak memiliki kesadaran.

 


 

Diambil dari : cempari.com - Misteri, Fenomena dan teknologi  dengan sumber asli tulisan Harun Yahya di  harunyahya.com

 

 

 Menyembuhkan Kanker, Tumor, Kista dan Sel-sel Ganas Lainnya
keladi tikus
 

Keladi  Tikus : memperbaiki sistem pertahanan tubuh sehingga sistem  pertahanan mampu menghancurkan sel-sel kanker,  menghambat pertumbuhan sel  kanker termasuk melawan duplikasi sel  ganas, mereduksi  radikal bebas penyebab kanker, dan menghambat akibat buruk dari kemoterapi (rambut rontok, mual dsb).

Saran: Konsumsi – Minum Keladi Tikus Segar (Jus Keladi Tikus) telah terbukti  lebih efektif dibandingkan dengan semua produk hasil olahannya (extrak maupun plus).  Untuk itu usahakan Anda membuat Jus Keladi Tikus sendiri. Karena lebih manjur dan tidak perlu mengeluarkan biaya (sebenarnya mudah didapatkan di banyak tempat yang tumbuh liar). Minumlah kapsul keladi tikus hanya bila tidak sempat membuat jus-nya saja. Selain itu keladi tikus tidak bisa dibuat jamu godog karena efektifitasnya akan turun drastic (hilang). Anda juga bisa budidaya sendiri dengan mudah